Saturday, January 6, 2018

Jangan Asal Pegang Burung ! Papua Punya 6 burung beracun sekali Pegang Ini Nasibmu !

selama ini kita tahu bahwa burung biasanya memiliki kicauan yang merdu dan bulu yang indah sehingga terkadang kita ingin sekali untuk memegang, apalagi burung bandangan pasti rebutan untuk menangkapnya. Namun siapa sangka di tanah seribu emas di Papua, terdapat jenis burung langka yang hanya di temukan disana dimana burung ini sangat beracun dimana mampu membuat manusia terkena stroke ringan mendadak atau mati rasa.

disini redaksikicau.com merangkum 4 jenis burung beracun di tanah papua :


1.Pihotui

Pihotui ( pachyphalidae) memiliki suara yang bagus dan juga bulu yang milik seperti burung jalak - jalakan, burung ini tersebar hidup di daratan papua dan papua nugini
dibalik warna bulunya dan polosnya burung ini siapa sangka ia memiliki racun yang mematikan, bernama neorotoxin, menurut para ilmuan sampel bulu burung ini di berikan kepada seekor tikus putih, beberapa menit kemudia tikus mengalami kematian perlahan.

Efek : kelumpuhan - kematian

Jenis - jenis pitohui

2. crested pitohui



3. hooded pitohui


4. variable pitohui





5.Little shrikethrush 

burung yang memiliki bahasa latin Colluricincla megarhyncha tinggal di daratan rendah hutan papua dan dapat pula di jumpai di australia.

burung ini memiliki racun yang sama dengan jenis pitohui.

sekilas mirip dengan jongkokan.



 6. Blue-capped ifrita (Ifrita kowaldi)

ya yang terakhir adalah jenis burung ifrita burung ini tinggal di papua barat,kepualauan aru dan papua nugini. racunnya terdapat di bulu yang digunakan sebagai defense mecanisme agar menjaga mereka dari predator terutama bila sedang waktu bertelur dan mengerami.


nah segitu dulu sahabat redaksikicau, ternyata di dalam negeri indonesia menyimpan banyak sekali misteri dan burung yang menjadi kita jadi lebih tahu, so lain kali kalo ada bandangan diliat dulu ya apakah mereka beracun atau tidak. salam redaksikicau.com

jangan lupa saksikan juga di REDAKSIKICAUTV DI youtobe
Previous Post
Next Post

post written by:

0 komentar: